Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah binAshram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi`. Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalam masalah yang membuat Aus marah, dia berkata, “Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku.”
PARIS - Karima (25), seorang muslimah yang tinggal di Trappes, Perancis tetap ingin memakai jilbabnya. Jika pihak polis menyuruhnya melepaskan jilbab, dia akan melepasnya sebentar. Setelah polis pergi dan tidak melihatnya lagi, maka ia akan mengenakan jilbabnya kembali. Namun jika ia tidak berhasil melakukannya, ia lebih memilih untuk tinggal di rumah atau pergi meninggalkan Perancis daripada harus keluar tanpa menggunakan jilbab. "Saya pernah ditawarkan untuk melepas jilbab dan akan dihadiahi 29 ribu euro, tapi saya menolak,” ucap Karima yang ketika itu sedang berbelanja di salah satu pusat beli-belah sebelah barat daya Paris.
Sejak 11 April 2011 lalu, Presiden Perancis, Nicholas Sarkozy mengesahkan undang-undang baru yang melarang muslimah di Perancis untuk menggunakan burqa, jilbab dan sejenisnya. Masyarakat muslim Perancis menganggap ini sebagai penghinaan untuk Islam dan melanggar hak asasi dan kebebasan agama.
Pemerintah Perancis melarang perempuan memakai jilbab untuk menyembunyikan wajah mereka di tempat umum, bahkan di jalanan. Ia menghukum mereka yang menentang dengan hukuman denda sebanyak 150 euro. Bagi mereka yang menyuruh seorang wanita mengenakan jilbab, hukumannya adalah penjara dan denda sebanyak 30 ribu euro.
Pemerintah Perancis melarang perempuan memakai jilbab untuk menyembunyikan wajah mereka di tempat umum, bahkan di jalanan. Ia menghukum mereka yang menentang dengan hukuman denda sebanyak 150 euro. Bagi mereka yang menyuruh seorang wanita mengenakan jilbab, hukumannya adalah penjara dan denda sebanyak 30 ribu euro.

Dunia sudah nak kiamat. Kalau bertelanjang itu dianggap hak asasi tetapi kalau berjilbab itu dianggap jenayah. Bahkan kalau ibu-bapa atau suami menyuruh tanggungannya memakai jilbab itu lagi besar jenayah. Tetapi yang hairannya bagi para muslimat yang istiqamah, ibadah tersebut terlalu mahal harganya dan tidak terbayar dengan harga duniawi. Mereka tetap memilih untuk berjilbab meskipun didenda. Inilah kekadang menghairankan banyak wanita di Eropah.
Bahkan bagi setengah pejuang wanita barat, mereka menganggap itu sebagai penindasan dan diskriminasi terhadap wanita dan mereka cuba untuk menghalangnya tetapi mereka lupa itulah sebenarnya yang dituntut oleh wanita muslim. Ia merasai nikmatnya tersendiri. Inilah akhirnya menjadi penyebab ramai pula wanita memeluk Islam di Perancis. Perasaan ingin tahu menyebabkan mereka selongkar maklumat, mereka mengetahui hikmahnya dan akhirnya mereka memilih untuk memeluk Islam.
Yang hairan dinegara kita. Tidak ada siapa pun hendak membayar kalau membuang jilbab tetapi mereka yang mendakwa pengamal islam contoh ini membuang jilbab bahkan berbangga dengan gaya rambut masing-masing. Kalaulah isteri PM memakai jilbab dan menutup kepalanya, alangkah lebih elok dan menjadi contoh buat umat Islam di Malaysia. Atau kalau Rosmah meminta RM29 ribu sekalipun, rakyat Malaysia sanggup mengutip derma bagi menyerahkan kepada beliau agar menutup aurat dan tertutup satu daripada lubang mungkar.
"Sebab itu, kita mau hormat dan jangan main-main dengan kaum muslimat ni tuan-tuan, sebab suara mereka didengari Allah dengan melepasi 7 petala langit. Hebat tak hebatnya suara muslimat ni tuan-tuan, sehingga dalam ayat pertama Surah al-Mujaadalah itu terdapat 4x disebut kalimah Allah. Firman Allah, "Sesungguhnya Allah telah mendengar rayuan wanita itu apabila dia mengadu pada engkau (wahai Muhammad saw), tentang perangai suaminya. Dia mengadu kepada Allah. Allah mendengar perbualan kamu berdua. Sesungguhnya Allah itu Maha mendengar lagi Maha melihat..."...Turunnya ayat ini ialah untuk memberi hukuman kepada kisah zihar. Lihatlah tentang hukum zihar dalam pengajian "Qanun Jinayah Syar`iyah"."
Khaulah Binti Tsa’labah
(Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit Ketujuh)
Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesedaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, “Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menyentuhku kerana engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.
Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan nabi tentang urusan tersebut. Rasulullah saw bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.” Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah saw apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya”. Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku”.
Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun permintaan dan pengaduan tidak ditujukan melainkan untuk Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw. Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah saw pengsan sebagaimana biasanya beliau pengsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sedar kembali, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang dirimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (artinya), “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,…sampai firman Allah: “dan bagi oranr-orang kafir ada siksaan yang pedih.”(Al-Mujadalah:1-4) Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar: Nabi : Perintahkan kepadanya (suami Khansa`) untuk memerdekan seorang budak Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang boleh dia merdekakan. Nabi : Jika demikian perintahkan kepadanya untukpuasa dua bulan berturut-turut Khaulah : Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan puasa. Nabi : Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya. Nabi : Aku bantu dengan separuhnya Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah. Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak saudaramu itu secara baik.”
Maka Khaulah pun melaksanakannya. Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam a.s yang mengandungi banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya. Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, “Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang bertanya kepada Rasulullah saw, dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah…” (Al-Mujadalah: 1) Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab r.a saat berjalan untuk memberikan nasihatkepadanya. Beliau berkata, “Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah.” Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.
Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidak tahan mengatakan kepada Khaulah, “Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita.!” Umar kemudian menegurnya, “Biarkan dia…tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya. ” Dalam riwayat lain Umar bin Khathab berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasihatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu solat maka aku akan mengerjakan solat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya.” (SUMBER: buku Mengenal Shohabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly dan Musthafa Abu an-Nashar asy-Syalaby, h.242-246, penerbit AT-TIBYAN)







